Monday, July 29, 2013

We Love You, but Allah SWT Love You More

[20 Juli 2013]

Minggu ini tepat satu bulan setelah sebelumnya periksa kakak ke dokter di 19 Juni 2013 lalu. Rasanya udah gak sabar pengen lihat kakak seperti apa sekarang. Dari jauh-jauh hari saya sudah pesankan sama suami untuk mengosongkan jadwalnya hari ini. Makanya saat suami dapat tugas harus ke Tana Toraja 3 hari, saya agak takut kalau hari sabtu ini belum beres tugasnya. Alhamdulillah jumat malam suami sudah sampai dengan penerbangan Makassar - Bandung.

Dari siangnya, saya dan suami sudah merencanakan banyak hal sore ini. Mulai dari, jangan lupa mencetak hasil usg, merekam detak jantung atau pergerakan kakak, membeli pakaian dalam wanita hamil, membeli celana doraeman (ini sebutan saya dan suami untuk celana wanita hamil, disebut celana doraemon karna ada kantung karet di bagian depannya) untuk ngantor, membeli dispenser supaya saya bisa minum air hangat dirumah, beli helm sepeda untuk suami, beli kerak telor deket kantor dan hal-hal lain yang sudah kami rencanakan sebelumnya.

Ah, tidak sabar rasanya. Kami terus bercanda-canda dan membayangkan hal menakjubkan apa yang akan kami temui sore ini. Makin gak sabar rasanya. Dari 2 minggu sebelumnya saya sengaja sudah daftar kontrol sore ini. Tujuannya supaya dapat nomor awal dan sorenya kami bisa jalan-jalan, malam mingguan sama suami. Alhamdulillah dapat nomor antrian 4.

Jam 2.30an saya dan suami berangkat dari rumah. Jalanan Bandung seperti biasa, padat dengan kendaraan Plat B. Saat sampai ke RS Hermina pun tempat parkirnya penuh. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mencari parkir di luar. Baru dapat parkir di BTC. Jadi lumayan nih, siang menjelang sore saya olahraga jalan kaki dari BTC ke Hermina.

Ketika baru sampai di BTC, petugas dari RS Hermina pun telp saya. Menanyakan jadwal kontrol saya sore ini. Saya bilang saja kalau kami sudah sampai di Hermina tetapi tidak kebagian parkir, akhirnya baru dapat parkir di BTC.

Cukup ngos-ngosan juga ketika saya sampai di Hermina. Tapi karena sudah tidak sabar pengen lihat si kakak, saya tetap semangat. Langsung ke tempat pendaftaran, ambil antrian saya lalu lanjut ke tempat ukur tensi dan timbang berat badan. Hasilnya, 120/80 dan 48,9 kg. Berat badan saya cuma naik 0.1 kg dibanding bulan lalu.

Mbak-mbak susternya nanya, apakah saya sedang puasa atau tidak. Karena saya sedang tidak puasa, saya pun diberi gelas kosong dan sandwich. Lumayan isi perut. Sengaja juga saya minum agak banyak, supaya perut terisi penuh dan kerasa pengen pipis.

Menunggu sekitar 10 menitan kemudian nama saya pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter. Yeaaaaayy..... Asik....

Saya dan suami bergegas masuk ke dalam ruangan dokter. Trus ngobrol sedikit dengan dokternya. Cerita soal batuk saya yang entah muncul karna apa, trus tulang ekor saya yang sakit beberapa hari belakangan ini. Saya bertanya apa ada hubungannya tulang ekor sakit dengan kehamilan ini, beliau bilang bisa saja terjadi. Lalu dia mempersilakan saya ke tempat tidur pasien untuk di usg.

Saya langsung rebahan dan dibantu suster untuk mempersiapkan usg. Reza, suami saya pun langsung siap-siap di posisi yang pas untuk melihat hasil usg dan merekamnya. Makin gak sabar lihat si kakak. Dokterpun segera meraba-raba perut saya untuk melihat kondisi kakak sekarang.

Dokter terus meraba-raba perut saya. Suami saya tetap di posisinya, saya pun tampak serius melihat layar monitor usg.

"Kok gak ada," sekilas gumam dokternya.

Saya dan suami terus menanti.

Akhirnya dokter mendapatkan sebuah gambar usg dari dalam perut saya. Raut wajahnya agak berubah, dia terdiam. "Hmm, ini udah gak ada detak jantungnya."

Saya kaget. Bingung. Begitu juga Reza. Suami saya langsung memegang kaki saya, wajahnya menunjukkan kebingungan yang sama dengan saya.

"Maksudnya gimana?"

Dokter langsung menarik ukuran dari hasil usg tersebut. Hasilnya hanya menunjukkan ukuran tubuhnya sepanjang 2.09 cm.

Saya tau, dokter anna kehilangan banyak kata untuk menyampaikan sesuatu pada kami. Wajahnya berubah. Sepertinya dia mencari kata-kata yang pas untuk disampaikan.

"Sebulan yang lalu ukurannya 1.30 cm dengan umur 8 mingguan, seharusnya ukurannya sekarang sudah jauh lebih besar dan dia sudah bergerak bebas. Ini ukurannya hanya 2.09 cm. Berarti dia sudah lama tidak tumbuh."

Saya menyimak dengan seksama, sembari tetap melihat layar usg dan sesekali bergantian melihat wajah suami dan dokter. Berbagai hal sudah mulai berkecamuk di pikiran.

"Detak jantungnya pun dicari-cari sudah tidak ada. Dan posisi bayi sudah ada di dasar, seharusnya umur 12 minggu dia sudah ada diatas. Ini kepala, badan, tangan dan kakinya, semua lengkap. Hanya dia sudah meninggal."

Saya bingung, dan saya tau Reza pun bingung. Saya berusaha menahan air mata supaya tidak menangis disini.

"Kapan meninggalnya dok?" tanya saya kepada dokter, suara saya bergetar, saya tetap berusaha menahan diri untuk tak menangis.

"Itu tidak bisa diketahui. Terlebih lagi tidak ada keluhan flek apalagi pendarahan," kata dokter singkat.

"Penyebabnya apa dok?" tanya suami.

"Itu juga gak bisa dengan pasti diketahuinya. Apakah karena kecapean kerja atau yang lain."

Saya lihat, Reza tetap berusaha tersenyum kepada saya. Tangannya terus menggenggam kaki saya. Menguatkan saya. Suster membantu membersihkan perut dan merapikan pakaian saya. Kami berdua pun duduk kembali di kursi pasien, berhadap-hadapan dengan dokter.

Saya kembali bertanya, "Penyebabnya karena apa dok?"

"Penyebab pastinya agak sulit diketahui. Karna terakhir kita cek kondisi bayi-nya sangat baik, ukuran bagus, detak jantung bagus dan yang lain juga tidak ada masalah. Ibunya juga tidak ada keluhan flek atau pendarahan. Kita tidak tau bayi-nya meninggal kapan, karena kan tidak mungkin kita cek setiap hari. Dan bisa saja bulan lalu selesai kita cek, keluar dari ruangan ini terjadi sesuatu dengan si bayi. Itu yang kita tidak tau."

Dokterpun memasukkan print hasil usg ke buku pasien yang bertuliskan nama saya dan Reza. Dia kembali melanjutkan, "sebaiknya kita tidak berspekulasi macam-macam. Bayinya meninggal karna ini atau itu. Kalau kita menyalahkan pekerjaan,bisa dibayangkan kan seorang petani wanita yang sedang hamil. Dia tetap bekerja di ladang seperti biasa, pekerjaannya berat tetapi kehamilannya baik-baik saja."

Mata saya semakin berat. Air mata mulai menumpuk dan menunggu untuk jatuh. Saya masih berusaha menahan air mata ini untuk tidak jatuh. Tanpa meminta ijin sebelumnya, saya langsung mengambil selembar tisu yang ada di atas meja kerja dokter anna. Menutup kedua mata saya dan membasuh mata saya yang mulai basah.

"Saya buatkan surat pengantar, maksimal satu minggu bayinya harus dikeluarkan dari ibunya. Saya tidak melarang kalau kalian ingin mencari second opinion, mudah-mudahan sih mata saya yang salah."

"Tapi nanti setelah dikuret tidak akan mengganggu setelahnya kan dok?" Tanya saya sambil menahan untuk tidak menangis.

"Gak ada. Nanti habis kuret, kita bisa langsung program setelah itu. Tiga bulan lah untuk program lagi. Operasinya juga kamu gak ngerasain apa-apa, karena kamu di bius total. Prosesnya sih sebentar, paling 15 menit. Persiapannya aja yang lama, bisa sampai 6 jam. Habis itu bisa langsung pulang, gak perlu nginap di RS."

Reza terus mengusap punggung dan menggenggam tangan saya. Saya tau, kami sama-sama terluka.

Kami pamit pulang. Dokterpun mengusap punggung saya, "sabar yah..."

Selesai membayar jasa konsultasi dokter, kami beranjak pulang. Kami sempatkan dulu sholat ashar di hermina. Selepas sholat, kami berdua sama-sama bingung harus melakukan apa atau harus kemana. Beberapa kali saya telp ke RS Limijati, untuk mencoba second opinion kesana. Tetapi tidak ada satupun telp kami yang diangkat, salurannya sibuk terus.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Ya Allah...... ikhlaskan hati kami ya Allah....
Ayah dan Bunda sayang kakak...
We love you, kakak... but Allah love you more...

13 comments:

  1. lg blog walking, trus baca artikel ini. Speechless :(

    sabar ya mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih ya, mba zata...
      InsyaAllah sabar, mungkin memang sudah jalannya seperti itu...

      Delete
    2. yayuuuuuu udah lama ga blogwalking. Ya Allah, semoga yayu dan Reza diberi kesabaran dan kekuatan yah. InsyaAllah segera dapat penggantinya, aamiin #peluk yayu

      Delete
    3. Makasih mba Win... :)
      Iya, mba... mudah2an segera dapat penggantinya....
      Aamiin....

      Delete
  2. Sabar ya Yayu... Baru tau kalau Yayu hamil & dpt cobaan ini. Peluk :)
    Insya Allah ini yg terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba mita... makasih yaa.... :)
      InsyaAllah sabar dan udah ikhlas, insyaAllah ini yang terbaik dan semoga ada hikmah baik setelah ini....

      Delete
  3. yayu...aku udah lama ngga main ke blogmu trus baca ini :( yayu yg kuat yaa,insya allah dapat gantinya segera dan pasti sudah disiapkan yang terbaik sm Allah * hugs*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nta... mohon doanya ya...
      InsyaAllah sudah ada rencana terbaik Allah setelah ini. Rencana Allah SWT jauh lebih indah daripada rencana kita. Aamiin....

      Delete
  4. yayuuuu :((... sabar yaaa.... bismillah terus usaha, jangan kayak aku yaaa... udh mulai nyerah niiy :D... *peluk yayuuu*

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah sabar, ta... :)
      Akan berusaha kembali mulai 3 bulan lagi. Semoga segera dapat gantinya... aamiin...
      Sekarang mau lebih sehatin badan dan naikin beratnya.
      Ayoo ta, kamu dan rio juga semangat yaaa...jangan mudah nyerah....
      Semoga kita segera dapat baby yaa.... aamiin... aamiin... aamiin yra...

      Delete
    2. amiinnn... mulai gerilya lagi niy aku... ade2 iparku udh pada jd bumil.. rio mulai kuatir kayaknya :) semangat yaaaahhh

      Delete
    3. Semangat ta....
      InsyaAllah semua akan indah pada waktu-Nya... di waktu yang tepat menurut-Nya....
      Aamiin....

      Delete

Jika berkenan tinggalin jejak yaa... Terimakasih sudah berkunjung... :)